Manggar, Diskominfo SP Beltim – Menanggapi isu terkait inflasi year on year (y-on-y) Kabupaten Belitung Timur (Beltim) pada Juli 2025 tercatat sebesar 3,50 dan menjadi inflasi tertinggi se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Ketua Tim Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik Kabupaten Beltim, Nur Handayani mengatakan bahwa angka tersebut masih berada dalam rentang target inflasi yang ditetapkan pemerintah.

“Angka inflasi Kabupaten Beltim pada Juli 2025 sebenarnya masih berada dalam rentang wajar inflasi secara nasional, mengingat inflasi nasional tercatat sebesar 2,37% di periode yang sama. Secara umum, Bank Indonesia menetapkan target inflasi tahunan nasional berada pada kisaran 2,5% ± 1%, sehingga capaian Beltim masih tergolong dapat dikendalikan, terutama di tengah tekanan harga komoditas global seperti emas dan dinamika pasokan bahan pangan,” ungkap Nur.
Lebih lanjut Nur menjelaskan bahwa salah satu komoditas tertinggi yang ikut mendorong laju inflasi adalah emas perhiasan yang dikategorikan kelompok perawatan diri.
“Jadi komoditas emas perhiasan ini masuk ke dalam kelompok komoditas administrative price yang harganya diatur oleh pemerintah. Artinya daerah mengikuti harga yang ditetapkan oleh pusat, dan bukan bentukan harga dari daerah,” sambungnya.
Kemudian Ia turut memaparkan komoditas lain yang menjadi penyumbang angka inflasi Kabupaten Beltim yakni, komoditas akademi/perguruan tinggi.

“Nah selanjutnya, ada komoditas akademi/perguruan tinggi di mana ada kenaikan SPP perguruan tinggi yang ada di Beltim dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” paparnya.
Dikatakan oleh Nur bahwa kenaikan angka inflasi di Kabupaten Beltim juga turut dipengaruhi oleh lonjakan harga beras, yang merupakan fenomena nasional dan tidak hanya terjadi di Kabupaten Beltim saja.
“Secara umum, harga beras mengalami peningkatan di berbagai wilayah Indonesia akibat berkurangnya pasokan imbas musim panen yang mundur serta kenaikan biaya produksi. Kondisi ini berdampak langsung pada indeks harga konsumen, mengingat beras merupakan komoditas utama dalam konsumsi rumah tangga, termasuk di Beltim,” pungkas Nur. (Ts)
