Perempuan Beltim Didorong Aktif di Politik

25 Jul 2025 | Berita Utama, Politik, Sosial

Manggar, Diskominfo SP Beltim – Keterlibatan perempuan dalam politik dinilai masih minim di Belitung Timur. Dalam Pemilu Legislatif terakhir, belum satu pun perempuan berhasil duduk di kursi DPRD. Kondisi ini menjadi sorotan dalam Sosialisasi Pembinaan Politik Bagi Kaum Perempuan Tahun 2025, di Gedung Auditorium Zahari MZ, Jumat (25/7/25).

Kegiatan ini bertujuan membangkitkan partisipasi, memperkuat kepercayaan diri, serta membuka jalan bagi perempuan untuk berperan lebih aktif di panggung politik.

Bupati Beltim yang diwakili oleh Plt. Asisten III Sekretariat Daerah, Ida Lismawati menegaskan bahwa keterlibatan perempuan dalam politik bukan hanya sebuah kewajiban formal, melainkan kebutuhan demokrasi yang hakiki.

“Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 dengan tegas mengamanatkan bahwa partai politik wajib menyertakan paling sedikit 30% keterwakilan perempuan dalam daftar bakal calon anggota legislatif. Ini bukan sekadar angka administratif, melainkan bentuk nyata komitmen negara terhadap kesetaraan gender dan keadilan sosial,” tegas Ida.

Namun disampaikan Ida, realita di lapangan masih belum sejalan dengan harapan. Pada Pemilu Legislatif terakhir, belum satu pun perempuan berhasil terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Beltim.

“Ini realita yang harus kita perbaiki bersama. Bukan karena perempuan tidak mampu, tetapi karena masih ada tantangan struktural, kultural, dan politis yang harus kita jawab bersama.,” ujarnya.

Dilanjutkannya, perempuan dinilai membawa perspektif berbeda yang sangat penting, terutama dalam isu-isu yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, ketahanan keluarga, hingga ekonomi lokal.

“Kegiatan ini sangat penting untuk mendorong partisipasi, membangun kepercayaan diri, dan menjembatani perempuan dengan partai politik, termasuk menjadi calon legislatif di Pemilu 2029 mendatang,” seru Ida.

Ia juga mengajak seluruh unsur partai politik, organisasi masyarakat, serta tokoh daerah untuk bersama-sama menciptakan iklim politik yang ramah perempuan.

“Politik bukan hanya ruang milik laki-laki. Politik adalah ruang perjuangan seluruh warga negara, termasuk perempuan. Dan perempuan harus melek politik,” tutupnya. (Ln)