Manggar, Diskominfo SP Beltim – Bupati Belitung Timur (Beltim) melalui Pj. Sekretaris Daerah, Hendriyani, membuka kegiatan Penguatan Moderasi Beragama yang diselenggarakan oleh Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik (IAIN SAS) Bangka Belitung, di Auditorium Zahari MZ, Jumat (29/8/25).
Kegiatan yang menghadirkan tokoh agama, organisasi keagamaan, serta mahasiswa ini menjadi bagian dari pengabdian IAIN SAS Babel dalam memperkuat moderasi beragama di tengah masyarakat.

Rektor IAIN SAS Babel, Irawan menegaskan bahwa moderasi beragama adalah tanggung jawab bersama. IAIN sebagai bagian dari Kementerian Agama berkomitmen menjadi penjaga gawang moderasi beragama melalui program pendidikan dan pengabdian masyarakat.
“Moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama, melainkan mengajak kita untuk saling menghargai perbedaan. Setiap agama mengajarkan nilai saling menghormati, saling menasihati, dan hidup rukun dalam keberagaman,” ujarnya.

Ia juga menekankan empat poin penting dalam penguatan moderasi beragama, yaitu komitmen kebangsaan, menjaga persatuan, merawat kerukunan dalam kemajemukan, serta menanamkan sikap saling asih, asah, dan asuh.
“Indonesia sudah final sebagai bangsa yang merdeka. Tugas kita mengisi kemerdekaan dengan memperkuat persatuan dalam bingkai perbedaan,” tambahnya.

Sementara itu, mewakili Bupati Beltim, Hendriyani menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada IAIN SAS Babel atas perannya dalam memperkuat nilai toleransi di masyarakat. Menurutnya sebagai daerah yang beragam suku, budaya, dan agama, Pemkab Beltim merasa bertanggung jawab untuk terus mendorong dan memperkuat nilai-nilai tersebut.
“Kami berharap tokoh agama dapat menjadi penuntun umat dengan sikap ramah dan terbuka, sementara organisasi keagamaan menjadi mitra aktif pemerintah dalam merawat kerukunan,” ungkap Hendriyani.

Ia juga berpesan kepada mahasiswa agar menjadikan kegiatan ini sebagai pengalaman berharga dalam menumbuhkan sikap beragama yang bijak, termasuk di ruang digital.
“Kegiatan seperti ini harus terus digalakkan karena moderasi beragama bukan sekadar konsep, melainkan sikap hidup yang harus kita tanamkan agar kita bisa hidup rukun dan damai meski berbeda keyakinan,” tutupnya. (Ln)

