Manggar, Diskominfo SP Beltim – Pemerintah Kabupaten Belitung Timur (Beltim) mencatatkan prestasi membanggakan dalam upaya menurunkan angka stunting. Berdasarkan data tahun 2024, prevalensi stunting di Beltim turun menjadi 17,1 persen, menjadikannya yang terendah di antara tujuh kabupaten/kota se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hal itu ditegaskan langsung oleh Wakil Bupati Beltim, Khairil Anwar, saat membuka Rapat Koordinasi dan Evaluasi Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Belitung Timur, Kamis (31/7/25) di Ruang Pertemuan Hotel Guest Manggar.
Khairil menegaskan, capaian ini tak lantas membuat Pemkab Beltim berpuas diri. Menurutnya, penanganan stunting merupakan prioritas penting pembangunan daerah karena menyangkut kualitas generasi masa depan.

“Angka 17,1 persen memang patut diapresiasi, tapi belum cukup. Kita belum mencapai target nasional 14 persen. Artinya, kita harus lebih serius lagi, lebih fokus, dan lebih kompak,” tegas Khairil.
Ia menekankan empat poin utama sebagai penggerak keberhasilan penanganan stunting. Pertama, seluruh perangkat daerah diminta bekerja optimal sesuai tupoksinya, baik yang berhubungan langsung dengan intervensi gizi maupun dukungan tak langsung seperti penyediaan air bersih, sanitasi, pendidikan, dan jaminan sosial.
“Kedua, pemerintah desa harus aktif mendampingi keluarga berisiko stunting dan memastikan data serta intervensi tepat sasaran. Posyandu juga harus jadi garda depan. Jangan hanya jadi tempat timbang anak, tapi pusat layanan dan edukasi bagi keluarga. Di situlah fungsi kader dan masyarakat sangat penting,” ujarnya.
Dilanjutkan Khairil, yang ketiga yakni pentingnya optimalisasi Posyandu sebagai pusat layanan dan pemantauan tumbuh kembang anak dan keempat, sinergi lintas sektor harus lebih dari sekadar formalitas, melainkan aksi nyata di lapangan yang bisa diukur dampaknya.
“Mari kita pastikan tidak ada anak di Beltim yang mengalami stunting akibat kelalaian sistem, karena tugas kita menjamin mereka tumbuh sehat, cerdas, dan siap menyongsong masa depan,” ucapnya.
STUNTING BUKAN HANYA SOAL ANGGARAN, TAPI KOMITMEN

Dalam sesi wawancara usai acara, Wabup Khairil secara terbuka menyampaikan bahwa penurunan angka stunting belum membuatnya sepenuhnya puas. Ia menyebut bahwa persoalan stunting tidak cukup ditangani hanya dari sisi anggaran, tetapi perlu komitmen kuat dan kolaborasi nyata dari seluruh pemangku kepentingan.
“Kalau hanya soal dana, kita bisa cari. Tapi komitmen itu yang penting. Kalau OPD jalan masing-masing, sulit kita turunkan stunting ini. Kita harus solid, harus sama-sama ke lapangan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, data yang dikumpulkan tiap OPD harus dikelola secara terarah oleh Bappelitbangda Beltim, lalu dijadikan dasar untuk merumuskan kebijakan yang efektif dan tepat sasaran. Khairil juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam menangani stunting, bukan hanya pemerintah.

“Stunting ini bukan hanya soal ekonomi bawah. Kadang keluarga menengah pun anaknya bisa stunting karena pola asuh yang keliru. Kita harus ubah mindset. Jangan ikut tren hidup, tapi pikirkan tumbuh kembang anak,” tuturnya.
Dengan nada prihatin, ia menyampaikan bahwa edukasi ke keluarga harus terus diperkuat. Cara mendidik anak harus lebih ramah dan penuh kasih sayang, bukan dengan kekerasan yang dulu dianggap lumrah.
“Menurunkan stunting ini bukan hanya tugas pemerintah. Pemerintah bisa kasih program, tapi keluarga yang jadi benteng pertama,” tutup Khairil penuh semangat. (Ln)
