Dinas Perpustakaan Beltim Dukung Penguatan Literasi Daerah

24 Jun 2025 | Info OPD, Pendidikan

Manggar, Diskominfo SP Beltim – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Belitung Timur (Beltim) menggelar Bedah Buku Koleksi Perpustakaan Daerah Tahun 2025 di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Beltim, Selasa (24/6/25).

Kegiatan yang akan dilaksanakan hingga 25 Juni ini dihadiri 100 peserta dari berbagai kalangan yang terdiri dari pelajar, guru, pustakawan, pegiat literasi, ASN, hingga masyarakat umum.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Beltim, Mudiarsono, menyampaikan kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap penguatan literasi daerah sekaligus promosi hasil karya putra daerah.

“Hari ini akan membedah buku Kiprah dan Kenangan sosok Bupati H.AS. Hananjoeddin “Memenuhi Panggilan Rakyat” karya Haril Andersen, dan besok bedah buku “Bunga Rampai Tradisi Lisan Melayu Belitong” karya Adi Guna, “ jelasnya.

Dilanjutkan Yayan, sapaan akrab Mudiarsono, bedah buku juga digelar sebagai bagian dari program Dana Alokasi Khusus Non Fisik (DAK NF) dari Perpustakaan Nasional RI.

“Tahun ini kita mendapatkan DAK non fisik. Se-Indonesia, tidak semua kabupaten menerima dana ini. Mudah-mudahan bisa berlanjut di tahun-tahun berikutnya,”ungkap Yayan.

Dengan pelaksanaan bedah buku ini, Yayan berharap dapat membangun ekosistem literasi yang lebih hidup dan dekat dengan masyarakat.

“Semoga kegiatan ini juga dapat membuka wawasan tentang budaya lokal Belitong dan meneruskan semangat perjuangan H. AS. Hanandjoeddin serta menggelorakan kembali pengusulan Bupati H. AS. Hanandjoeddin sebagai pahlawan nasional”. tutupnya.

BEDAH BUKU BUNGA RAMPAI, MENGUNGKAP KEKAYAAN TRADISI LISAN MELAYU BELITONGAdi Guna, penulis buku Bunga Rampai Tradisi Lisan Melayu Belitong, mengungkapkan bahwa buku yang ditulisnya merupakan kumpulan pemikiran dan catatan kecil mengenai warisan tradisi lisan masyarakat Melayu Belitong.

“Karena judulnya Bunga Rampai, maka isinya memang rangkaian catatan yang menggambarkan apa dan bagaimana tradisi lisan di Pulau Belitong diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Melayu,” ujar Adi.

Menurutnya, tradisi lisan merupakan cerminan identitas masyarakat Melayu yang sebagian besar merupakan masyarakat penutur, bukan penulis. Masyarakat Melayu Belitong mengembangkan sistem pengetahuan secara lisan yang sifatnya sistematis.

“Pengetahuan tentang sejarah, adat istiadat, hingga cara mengolah hasil bumi dan laut semuanya diturunkan lewat tradisi lisan. Tidak hanya soal budaya, tapi juga ada seni, petuah, sastra, semuanya menjadi simbol kebudayaan kita,” paparnya.

Melalui buku tersebut, Adi berharap nilai-nilai kelokalan yang sebelumnya hanya dilisankan dapat dibaca, dipahami, dan diwariskan lebih luas.

“Saya mencoba menghadirkan tradisi lisan dalam bentuk tulisan, agar lebih banyak orang bisa mengenal dan melestarikan budaya Melayu Belitong secara lebih utuh,” tutupnya. (Ln)