Manggar, Diskominfo Beltim – Kenaikan muka air laut merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim global yang mengancam kondisi sosial,ekonomi dan lingkungan. Masyarakat pesisir Kabupaten Belitung Timur (Beltim) yang hidup dekat dengan garis pantai, sangat rentan terhadap dampak negatif kenaikan muka air laut. Oleh karena itu, sangat penting bagi Pemerintah Daerah untuk mengembangkan model adaptasi yang efektif dan berkelanjutan, yang mampu melindungi dan meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir.
Hal itu disampaikan Bupati Belitung Timur (Beltim) yang diwakili Asisten I bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Beltim Sayono saat membuka workshop model adaptasi kenaikan muka air laut terhadap masyarakat pesisir Pulau Belitong di wilayah Beltim di Ruang Rapat Bupati Beltim, Senin (19/6).
“Workshop ini merupakan kesempatan berbagai pihak untuk belajar satu sama lain, mendengarkan pengalaman dan pengetahuan yang ada dan mengidentifikasi praktik terbaik dalam menghadapi tantangan tersebut,” kata Sayono.
Dalam forum ini, ungkap Sayono, akan terdapat banyak hal yang dibahas, seperti membahas tentang strategi mitigasi risiko, infrastruktur tahan air, pengelolaan bencana, perencanaan perkotaan yang berkelanjutan, serta pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi kenaikan muka air laut.
Ia berharap workshop tersebut menghasilkan rekomendasi dan kerangka kerja yang komprehensif khususnya dalam mengatasi dampak dan mengurangi resiko akibat kenaikan muka air laut terutama di Desa Wisata Bahari di Kabupaten Belitung Timur.
Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Beltim Evi Nardi mengungkapkan wilayah pesisir di Kabupaten Beltim memiliki beragam potensi berupa keunikan dan keindahan alam yang dapat menjadi daya tarik wisata sehingga dapat menghasilkan dampak positif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir. Kawasan pesisir pantai tersebut yakni Pulau Bukulimau, Desa Wisata Baru dan Desa Wisata Lalang. Namun masyarakat yang hidup dekat dengan garis pantai tersebut, sangat rentan terhadap dampak negatif kenaikan muka air laut.
“Di kawasan pesisir di Kabupaten Beltim mempunyai banyak potensi wisata pesisir meliputi hamparan pantai dan laut termasuk potensi perikanan yang sangat berlimpah, namun kenaikan muka air laut dan pasang tinggi disertai gelombang yang tinggi sangat berdampak besar. Dimana kondisinya menunjukkan perubahan garis pantai di Desa Lalang serta kenaikan muka air laut dan abrasi,” kata Evi Nardi dalam workshop itu.
Evi berharap nantinya ada strategi adaptasi untuk mengantisipasi kenaikan muka air laut yang sesuai dan cocok untuk diterapkan di wilayah pesisir Kabupaten Belitung Timur.
Workshop tersebut dihadiri pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Babel, dan para kades. (ver)
