Bendungan Pice Harus Bebas Dari Tambang Ilegal

14 Mar 2021 | Berita Utama, Info SKPD, Kerjasama, Kunjungan, Pertambangan, Pertanian dan Perkebunan, Seremoni, Topik Pilihan

Gantung, Diskominfo Beltim – Dalam rangka melaksanakan pemanfaatan Bendungan Pice Gantung seoptimal mungkin, Bupati Belitung Timur (Beltim) Burhanudin bersama Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman, Kapolda Babel Anang S. Hidayat, Danrem 045 Garuda Jaya M. Jangkung Widyanto melakukan Sosialisasi dan Dialog Optimalisasi Fungsi Bendungan Pice, Jumat (12/3/21).

Acara yang dilaksanakan di Balai Pertemuan Alun-alun Desa Lenggang ini turut dihadiri oleh Wakil Bupati Beltim Khairil Anwar, Kajari Beltim Abdur Kadir, Sekda Beltim Ikhwan Fahrozi, Perwakilan Gapoktan, Kepala OPD dan bidang-bidang teknis terkait lainnya.

Dalam penekannyanya, Gubernur menyampaikan secara tegas tidak ada lagi aktivitas penambangan yang berada disekitar bendungan pice karena menurutnya aktivitas tambang secara ilegal disekitar bendungan ini mengakibatkan kerusakan lingkungan dan sangat berdampak kepada para petani dan masyarakat disekitar bendungan tersebut.

“Kita sepakat semua harus mendukung bendungan pice bebas dari tambang ilegal. Kita minta dukungan masyarakat untuk tetap bersama-sama jangan biarkan kerusakan ini hanya dengan melapor saja, tetapi kita bersama-sama harus mengawasi dan terus menatap dari hulu ke hilir lokasi bendungan pice ini harus bebas dari penambangan ilegal,” ujar Gubernur Erzaldi.

Erzaldi menjelaskan, ada tiga fungsi yang harus dijaga dan harus dijalankan dalam optimalisasi fungsi bendungan pice tersebut. Pertama adalah fungsi pengairan ke sawah, hal ini sangat besar kaitannya dengan salah satu program pemerintah provinsi yang menunjuk Beltim untuk mendapat perhatian pelaksanaan food estate.

“Kedua adalah fungsi penyediaan air baku, bendungan ini telah dibangun dengan dua fungsi utama yaitu sebagai fungsi pengairan dan fungsi penyediaan air baku sehingga fungsinya harus kita laksanakan dengan baik agar kebutuhan masyarakat akan air baku dapat terpenuhi,” ujar Erzaldi.

Ketiga adalah fungsi pariwisata, lantaran aliran sungai disekitar bendungan pice keruh menyebabkan beberapa rencana pengembangan destinasi wisata di daerah tersebut terhambat.

“Saya banyak mendengar laporan bahwa ada bangunan hotel yang akan dikembangkan sepanjang jalan menuju bendungan pice. Tapi dikarenakan air disekitarnya keruh, maka salah satu destinasi yang ingin dikembangkan oleh masyarakat kita menjadi terhambat,” jelas Erzaldi.

Erzaldi mengajak masyarakat untuk fokus dan memperhatikan permasalahan lingkungan ini, hal ini guna mewujudkan program ketahanan pangan untuk Provinsi Babel agar dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

“Pada tahun 2017 pangan kita baru bisa meng-cover kebutuhan pangan 15% untuk seluruh Provinsi Babel. Akhir tahun 2020 mencapai 45%. Dan di tahun 2021 target kita harus lebih besar lagi yaitu harus lebih 50%, bisa 55% bisa 60% syukur-syukur bisa 90% mengingat banyak investasi yang telah kita lakukan,” tambahnya.

Terwujudnya ketahanan pangan selain para petani yang akan sejahtera tetapi masyarakat pun tentunya dengan pangan yang tersedia ini akan lebih sejahtera. (Aliyah)

Penulis: Aliyah

Foto & Editor: Fauzi Akbar